|
Written by Jack
|
|
Wednesday, 13 April 2005 |
Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak
disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan
serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup
lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat
mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh
mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar
tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun
sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat
makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat
yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak
yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang
mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak
berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si
tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia
juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan
serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan
berhasil menemukan arloji itu. "Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang kayu. "Saya
hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa
mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji
itu berada", jawab anak itu. Keheningan adalah pekerjaan rumah
yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar
kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada
baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai
melangkah menghadapi setiap permasalahan. "Segenggam ketenangan lebih
baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin."
(Pengkhotbah 4:6). "
~ Tarsis Sigho IV Taipei
|