Halo, teman-teman,saya mau menceritakan tentang kisah nyata salah satu keluarga kami yang mengalami penderitaan, kesusahan namun tetap setia mengikut Tuhan.
Opa saya mempunyai banyak anak dan semuanya percaya kepada Tuhan termasuk ii-ku (selanjutnya disebut bibi) yang bernama Merry. Semenjak menjalani pernikahan, dia menjalani kehidupannya dengan sangat menderita, banyak pergumulan disana sini dan pergumulan ini bertambah-tambah sejak kelahiran anak kedua. Anak kedua ini lahir sehat namun pada saat itu dia sudah mulai berhenti bekerja dan menganggur sehingga kehidupannya pas-pasan dan harus dibantu oleh keluarga. Anak-anaknya bernama Daniel dan Yesaya, yang juga percaya kepada Tuhan. Yesaya adalah anak yang sangat lucu dan menjadi bahan perhatian dan kasih semua orang sehingga Semua sanak keluarga mencintainya dan dia sangat mencintai mama dan papanya. Yesaya bertumbuh semakin besar dan sering bermain ke rumah opa (sekarang sudah almarhum) di Teluk Gong. Suatu hari, ketika dia sedang di rumah opa, dia sering menangis dan menangis. Biasanya dia suka makan dan makanan kesukaan yang kami ingat adalah bakso. Suatu kali, dia tidak nafsu makan dan badannya lemas karena terkena demam. Orang tuanya berpikir bahwa itu hanya demam biasa dan bisa diobati. Ternyata demamnya cukup lama, kurang lebih 1 bulan dan demamnyatinggi. Suatu kali saat dia dalam kondisi demam tinggi, mamanya membawanya ke dokter anak dan disana Yesaya tertidur lelap. Mamanya berpikir Yesaya tertidur karena demam itu namun ternyata demam tinggilah yang menyebabkan Yesaya tidak sadarkan diri dan tidak bisa membuka matanya. Cukup lama Yesaya dirawat di rumah sakit namun tidak ketahuan apa penyakitnya. Yesaya masih tetap demam. Banyak diagnosa yang diberikan dokter sampai menyebabkan Yesaya harus diam dengan lama di rumah sakit (di ICU). Keluarganya sangat miskin namun anak ini harus mengalami penderitaan cukup lama. Namun satu hal yang sangat dikenang, Yesaya tidak pernah menangis ketika kondisinya makin lemah. Selama menjaga Yesaya di rumah sakit Husada Jakarta mamanya terus berdoa dan berserah pada Tuhan. Kalau Yesaya harus dipanggil dia sudah siap. Selain itu banyak juga godaan-godaan selama Yesaya sakit di mana banyak hal yang sebenarnya bisa membuat mamanya Yesaya meninggalkan Tuhan. Pada saat menunggu Yesaya di rumah sakit, banyak orang termasuk orang yang belum percaya Tuhan, yang menawarkan bermacam-macam hal perdukunan, seperti memakaikan gelang pada tangan Yesaya dan lain-lain, namun bibi saya tetap bertekad tidak akan melakukan hal-hal yang menyedihkan hati Tuhan. Lebih baik jikalau anaknya memang harus mati daripada menyangkal Yesus. Ia juga menunjukkan satu teladan yang indah, yaitu tidak bersungut-sungut dan tetap bersyukur pada Tuhan. Penyelidikan demi penyelidikan dilakukan dan ternyata Yesaya mengidap cairan di otak dan dioperasi kemudian pada scanning kedua juga didapatkan ada cairan di otak kanan dan persentasi kesembuhan kecil, namun kondisinya tetap juga parah. Kemudian, kondisinya makin parah saat ditemukannya cairan darah di otaknya dan sudah sangat sulit untuk dioperasi. Mama dan papanya hanya berserah pada Tuhan, kemudian sampai pada akhirnya, Yesaya dipindahkan ke kelas 3 dan dirawat di sana. Pada saat-saat terakhirnya, Yesaya ketika sempat dikunjungi oleh bibi saya yang lain, dia masih ingat makanan kesukaannnya dan minta makan bakso sehingga kami semua tertawa mendengarnya. Ada satu keajaiban sebelum Yesaya meninggal yaitu kakinya terlipat bagus dan sudah bisa makan. Pada akhirnya Yesaya sempat batuk darah sebentar sebelum kemudian meninggal dunia. Memang mama Yesaya sangat sedih, dia tidak bisa menerima kenyataan ini, namun melalui peristiwa demi peristiwa akhirnya mama Yesaya bisa kuat kembali dan bangkit untuk melayani Tuhan. Melalui kesaksian ini, biarlah menguatkan setiap kita yang membacanya. Mungkin banyak masalah yang kita hadapi, tantangan, kesedihan namun janganlah lupa, itu semua membentuk kita untuk semakin sempurna di hadapan Tuhan dan itu akan menguatkan iman kita. Jadi melalui kesaksian nyata ini, bagi teman-teman yang memiliki masalah, jangan cemas, jangan salahkan Tuhan dan tetap setia ikut Tuhan, jangan mencoba-coba jalan pintas untuk suatu kesembuhan,hanya Tuhanlah yang menjadi dokter kita. Bahkan kematian juga menjadi berkat terindah bagi anakNya yang percaya karena dapat bertemu kembali dengan Dia. Amin, Tuhan Yesus memberkati. Penulis: Margareth Linandi |